Rabu, 22 Juni 2011
Rabu, 26 Januari 2011
Perintah Bekerja
Ayat di atas menegaskan bahwa setelah ibadah fardhu ditunaikan,.maka kita diperintahkan untuk mencari rezeki demi kelangsungan hidup di muka bumi ini. Rezeki, meski sudah diatur-Nya, tidak akan datang sendiri menghampiri kita tanpa ada usaha untuk memperolehnya. Perintah bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki mengandaikan sebuah usaha prima, sungguh-sungguh, kerja keras, ketekunan yang disertai dengan do’a dan sikap tawakal kepada Allah SWT.
Sebuah kata-kata mutiara mengingatkan kita : ”Barang siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya ia akan mendapatkan buah dari kesungguh-sungguhannya”. Maka, barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki, niscaya ia akan mendapatkan rezeki tersebut dengan izin Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda : ''Sesungguhnya, bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardhu.'' (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Jika kerja keras mencari rezeki merupakan kewajiban seorang Muslim setelah ibadah fardhu, masihkah kita merasa menjadi Muslim yang baik, ketika dalam jiwa kita masih tersimpan sikap malas dan tidak mau berusaha?
Selayaknya, ketika ibadah fardhu telah ditunaikan, kita tempa diri kita dengan cucuran keringat karena bekerja keras. Hanya dengan cara inilah, kita bisa bangga dan menunjukkan kalau kita benar-benar seorang Muslim sejati. Seorang Muslim yang sanggup menghadapi hidup ini dengan penuh gairah, semangat juang yang tinggi, meyakini bahwa rezeki Allah SWT sangat berlimpah dan disediakan bagi siapa saja yang mau berusaha menggapainya dengan ridho-Nya.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya bi ghoiri hisab (tanpa perhitungan)”. (Q.S. Ali Imran : 37).
Kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain menunjukkan jiwa serta kepribadian seorang Muslim, juga merupakan salah satu cara untuk menghapus dosa-dosa kita. Rasulullah SAW bersabda, ''Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena kedua tangannya bekerja pada siang hari, maka pada malam harinya ia diampuni Allah.'' (HR Ahmad)
Subhanallah, hadits di atas menunjukkan bahwa Allah SWT Maha Bijaksana dan Maha Pengampun kepada makhluk-Nya, karena manusia telah diberi ampunan Allah SWT lantaran ia bekerja keras pada siang harinya. Maka, janganlah kita merasa takut leleh karena bekerja, sesungguhnya Allah SWT sangat menghargai kerja keras bagi seorang hamba-Nya. Ingatlah bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah kita kepada Allah SWT. Dan bekerja merupakan realisasi dari keimanan kita kepada-Nya, karena keimanan itu tidak cukup hanya diyakini dalam hati dan diucapkan dengan lisan saja, tetapi lebih dari itu, ia harus direalisasikan dengan perbuatan (bekerja dan berusaha).
Jelaslah bagi kita bahwa tidak ada ruang bagi sikap malas dalam ajaran Islam. Islam selalu mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, mencari karunia Allah SWT di muka bumi ini dengan sikap gagah, sabar dan pantang menyerah. Di sinilah letak 'izzah (kehormatan harga diri sekaligus jati diri) seorang Muslim.
Sebaliknya, sikap berpangku tangan, pasrah terhadap keadaan, tidak berusaha mengubah diri ke arah yang lebih baik menunjukkan kerendahan diri seseorang. Bukankah Allah SWT telah memuliakan manusia dengan diberinya akal agar manusia itu berfikir, diberinya hati agar manusia itu merasakan, dan diberinya jasad agar manusia itu bekerja dan berusaha ? Maka, pantaskah kita sebagai seorang Muslim sejati, jika kita tidak mau berusaha untuk bekerja keras dan merubah diri untuk menjadi lebih baik ? Ingatlah, sesungguhnya Allah SWT tidak merubah suatu kaum (untuk lebih baik), kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Wallahu a'lam bish-shawab.
Khoirurrijal
